Masjid Agung Surakarta Dari Masa ke Masa

Buat orang Solo, siapa yang tak kenal dengan bangunan ini. Terlebih yang beragama islam. Bangunan yang sarat kisah dan kenangan buat yang anak 90an kelahiran Solo. Sebab, bangunan ini pasti akan dilewati Ketika musim sekaten setiap bulan Rabi’ul Awwal penanggalan hijriah.

Bangunan ini tidak lepas dengan sejarah penyebaran islam di tanah jawa. Terkhusus adalah Solo. Mari kita tengok sejarahnya.

Sejarah Pembangunan

Nama masjid ini menurut Wikipedia adalah Masjid Agêng Karaton Surakarta Hadiningrat. Bangunan ini oleh Pakubuwono II pada sekitar tahun 1749 dan baru selesai pada tahun 1768

Luas Bangunan

Lahan masjid Agung Surakarta bisa dibilang adalah paling luas. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas hampir 1 hektare.

Terdiri dari beberapa bangunan. Bangunan utama masjid yang berukuran 34,2 meter x 33,5 meter.

Pada perkembangannya masjid ini telah melalui beberapa penambahan dan renovasi. Meskipun, masih ada sisa-sisa yang dipertahankan sebagai bukti sebelum renovasi. Hal ini bisa dilihat di dalam masjid, ada bangunan lantai yang diberi pagar sebagai cagar budaya masjid agung Surakarta.

Fungsi Awal Masjid Agung Surakarta

Sejarah Masjid Agung Solo
Sumber: IndonesiaKaya.com

Status masjid ini adalah masjid kerajaan dan masjid jami’. Karenanya, masjid ini digunakan untuk shalat jum’at dan shalat Ied.

Selain itu, masjid ini juga untuk mendukung keperluan kerajaan terkait acara keagaamaan keraton seperti Grebeg dan festival Sekaten.

Bangunan Lain di Masjid Agung Solo

Di dalam komplek masjid agung terdapat beberapa bangunan yang menjadi satu. Berikut penjelasannya:

1. Kantor Pengelola

Ada bangunan pengelola. Bagi yang ingin menginap di sini, harus melapor ke pengelola atau security yang bertugas.

2. Mambaul Ulum

Lembaga Pendidikan Mambaul Ulum Masjid Agung Solo
Sumber: Nu.or.id

Mambaul Ulum adalah Lembaga Pendidikan yang didirikan pada 23 Juli 1905. Dibangun oleh Raja Paku Buwono (PB) X.

Sejarah pendiriannya karena pemerintah Kolonial Belanda membuat peraturan yang membatasi pengajaran Islam di wilayah Hindia Belanda. Di dalam peraturan Godsdienstinderwijs Mohammedaansch melakukan pengawasan terhadap sekolah-sekolah yang memberi pengajaran agama Islam di Jawa dan Madura, terkecuali di lingkup kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.[1]

Hal itu dimanfaatkan oleh Raja Paku Buwono (PB) X untuk menyiasasi peraturan tersebut. Akhirnya, dibuatlah mambaul Ulum untuk mengembangkan Pendidikan alternatif bagi masyarakat.

Sebab, pada waktu itu, Pendidikan terlalu diskriminatif terhadap masyarakat kelas bawah.

Tujuan lainnya adalah sebagai bentuk kaderisasi untuk para penghulu dan pengurus masjid di wilayah kasunanan yang telah meninggal.

3. Jam Bencet

Jam ini digunakan sebagai penanda datangnya waktu shalat Ketika dhuhur dan ashar. Namun, seiring perkembangan zaman dan makin banyaknya jam digital masjid di solo, penggunaan jam istiwa ini semakin berkurang. Hanya digunakan ketika mati lampu atau sebagai bahan pembelajaran.

4. Perpustakaan

Bangunan ini juga berada di dalam komplek Masjid Agung Solo

5. Poliklinik

Terdapat juga poliklinik di dalam komplek masjid agung solo.

Google Map

[1]  Hermanu Joebagio dalam buku Islam dan Kebangsaan di Keraton Surakarta (2017) yang dikutip oleh nu.or.id

Leave a Comment